Home > Renungan > Pria Pemimpin & Wanita Penolong

Pria Pemimpin & Wanita Penolong

PRIA PEMIMPIN

men-clipart Berbicara tentang pria sebagai seorang pemimpin, tidak lepas dari fungsi pria, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Banyak pria di akhir zaman ini tidak lagi berfungsi dengan benar, sesuai dengan apa yang Tuhan mau dalam hidupnya. Pria adalah penentu nasib, nasib keluarganya dan nasib lingkungannya (masyarakat). Keluarga hancur ketika para pria tidak berfungsi dengan baik. Karena itu para pria harus dibangkitkan kembali.

Beginilah cara Firman Tuhan berbicara tentang Daud, Lalu jawab salah seorang hamba itu, katanya: "Sesungguhnya, aku telah melihat salah seorang anak laki-laki Isai, orang Betlehem itu, yang pandai main kecapi. Ia seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara, elok perawakannya; dan TUHAN menyertai dia." (I Samuel 16:18).

Kata “anak laki-laki” dalama ayat ini, dalam bahasa aslinya berarti “ben” atau “bin”, yang artinya anaknya (Yosua bin Nun, artinya Yosua anaknya Nun). Kata “ben” sendiri berasal dari kata ”banha”, yang artinya founder (pendiri atau pembangun). Jadi pria pemimpin adalah PRIA PENDIRI. Nabi Elia ketika berada di gunung Karmel, memperbaiki (mendirikan kembali) mezbah Tuhan yang sudah rusak. Salomo mendirikan Bait Allah. Yesus mendirikan gereja. Tuhan memberi tugas yang khusus, kerinduan yang spesifik, kepada Anda, para pria ! Apa yang Tuhan taruh dalam hati kita, kerjakanlah itu. Apapun tantangan yang kita hadapi, berapa kali pun kita gagal, janganlah kita ragu, maju terus dan jangan menyerah. Dirikanlah (baca, kerjakanlah) itu !

Suatu kali, bangsa Israel tengah berperang dengan orang Filistin. Ketika mereka terpukul kalah oleh orang Filistin, bangsa Israel memutuskan membawa tabut perjanjian ke tengah-tengah medan peperangan, dengan harapan Tuhan hadir dan berperang untuk mereka. Ketika tabut itu sampai ke perkemahan, bersoraklah bangsa Israel dengan nyaring sehingga bumi bergetar. Ketika orang Filistin mendengar suara sorakan bangsa Israel, gentarlah mereka dan sangat ketakutan. Kemudian orang Filistin itu berkata, “Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki, hai orang Filistin, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!"

Orang Filistin berperang juga, dan Tuhan ijinkan bangsa Israel terpukul kalah dan tabut Tuhan dirampas, karena bangsa Israel telah berbuat jahat dan meninggalkan jalan Tuhan. Tapi bukan itu yang akan kita bahas di sini. Filistin adalah lambang dosa tapi mereka bisa berkata, berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah.

Kita sering mendengar istilah “hati bapa”, bagaimana kita memiliki hati seorang bapa bagi jiwa-jiwa, bagi keluarga kita. Hati bapa telah dirampas dari para pria jaman sekarang, sehingga mereka tidak mampu berperan sebagai bapa bagi keluarga mereka. Akibatnya, keluarga mereka (anak-anak) tidak melihat sosok bapa yang benar dalam diri para pria dan mereka tumbuh menjadi anak-anak yang tidak memiliki kemampuan menjadi bapa. Begitulah siklus jahat yang terus diputar oleh iblis di jaman akhir ini. Dalam bahasa Yunani, kata ”bapa” ditulis dengan kata ”patel”, yang artinya sumber. Kita harus menjadi bapa (sumber) bagi keluarga kita. Jangan sampai orang lain, yang tidak mengenal Tuhan, yang manjadi bapa (sumber) bagi keluarga kita.

Dalam ayat I Samuel 4:9 di atas, kata “laki-laki” dalam Alkitab terjemahan bahasa inggris ditulis dengan kata “martial man”, yang artinya pria perusak ato pembinasa. Iblis merusak para pria dan menjadikan mereka pria-pria seperti ini. JANGAN JADI PRIA PERUSAK/PEMBINASA. Pada jaman Musa, Firaun membunuh semua anak laki-laki. Pada jaman Yesus, Herodes membunuh semua anak laki-laki berusia di bawah dua tahun. Firaun dan Herodes adalah contoh pria-pria perusak. Jangan biarkan pria-pria macam ini menjadi bapa (sumber) bagi keluarga kita.

I Korintus 16:13 menuliskan, “Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!” Kata “laki-laki” di sini tidak sama dengan I Samuel 4:9. Di sini, kata ini dituliskan “manly“ yang artinya jantan, gagah, maskulin, berani. Pria harus menjadi PRIA PEMIMPIN, menjadi suami dan bapa yang baik.

Dalam keluarga, pria pemimpin memiliki peran berikut ini:

  • Sebagai imam

    Setiap pagi ia akan mengangkat tangannya, berdoa kepada Tuhan, dan memberkati istri, anak-anak, dan keluarganya. Ia akan berdoa supaya keluarganya terpelihara dalam kasih dan kebaikan Tuhan. Walaupun istri kita mungkin masih tidur, kewajiban para pria adalah untuk bangun setiap pagi dan memberkati keluarganya.

  • Sebagai raja

    Pria sebagai seorang pemimpin juga berperan sebagai raja. Ia dilayani tapi ia juga pemberi keputusan. Mintalah hikmat Tuhan dalam setiap keputusan yang kita ambil.

  • Sebagai nabi

    Pria harus membawa keluarganya lebih dekat kepada Tuhan. Pria bertanggung jawab menjadi juru bicaranya Tuhan, membagikan kebenaran Firman Tuhan, dan mengajarkan Firman Tuhan berulang-ulang kepada anak-anak.

    WANITA PENOLONG

mama_cookIsteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.” (Amsal 31:10-12)

Kitab Amsal katakan, istri yang cakap, siapa yang akan mendapatkannya? Kalau kita bicara tentang cakap, terutama pada wanita, tentu teringat akan 3B (Brain, Behavior, Beauty – Kepintaran, Sifat, Kecantikan). Tiga hal ini yang biasanya dicari dari seorang wanita. Bahkan setiap tahun ada ajang mencari wanita tercantik se-Indonesia, bahkan sedunia.

Kecantikan wanita datang dari dalam, dari hatinya. Kecantikan lahiriah hanya sementara sifatnya. Wanita bisa saja merias wajahnya dan tampil cantik di depan semua orang. Namun walaupun riasan wajah membuat wanita itu cantik, tentu seluruh make up itu akan dibersihkan ketika ia pulang ke rumah. Riasan wajah itu tidak dipakai ketika tidur. Mengapa? Salah satunya untuk menjaga kulit wajah tetap baik, dsb. Kecantikan lahiriah sementara sifatnya. Yang kekal adalah kecantikan dari dalam, dari hati.

Setelah Tuhan Yesus berdoa di bukit, wajah-Nya bersinar, memancarkan kemuliaan Allah. Wajah Musa juga bersinar setelah ia bertemu dengan Allah di gunung Sinai. Wajah Stefanus juga bersinar, seperti malaikat, setelah ia bersaksi tentang Yesus. Ini menggambarkan sebuah metamorfosa, artinya sebuah perubahan yang permanen, yang tidak akan kembali lagi seperti semula. Ini terjadi setelah mereka berjumpa dengan Tuhan.

Ayat 11 dalam Amsal 31 menuliskan, “Hati suaminya percaya kepadanya, …” Setiap istri perlu membangun kepercayaan pasangannya, karena orang yang dipercaya mendapat banyak berkat. Ketika kita dipercaya, suami akan memuji kita (Amsal 31:28). Pujian kepada seorang wanita, harus pertama-tama datang dari keluarga. Wanita dipuji karena ia takut akan Tuhan dan hasil karyanya, perbuatannya, itulah yang akan memuji dia.

Wanita disebut penolong bagi pria. Kata “penolong” identik dengan Roh Kudus. Amsal katakan istri yang cakap lebih berharga dari permata. Dalam Alkitab, hanya tiga hal yang disebutkan lebih berharga dari permata, yaitu Roh Kudus, Firman Tuhan, serta istri yang cakap. Istri yang cakap, yang takut akan Tuhan, disamakan dengan Roh Kudus dan Firman Tuhan. Ketika seorang istri takut akan Tuhan, kecantikannya akan terpancar dengan sendirinya. Ia pun akan mendorong suaminya, anak-anaknya, keluarganya semakin dekat dengan Tuhan, sehingga seluruh keluarganya diberkati. Marilah kita menjadi wanita-wanita penolong dalam Tuhan !

(K Eman)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: