Home > Renungan > Yesus Berjalan di Atas Air

Yesus Berjalan di Atas Air

Peristiwa Yesus berjalan di atas air terjadi setelah Ia memberi makan lima ribu orang (Markus 6:45-51). Dengan 5 roti dan 2 ikan, Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki (tidak terhitung wanita dan anak-anak) bahkan ada sisanya 12 bakul. Ini salah satu bukti bahwa Tuhan seringkali memberi apa yang tidak pernah kita pikirkan.

Setelah peristiwa itu, Yesus menyuruh orang banyak itu pulang dan murid-murid disuruh pergi ke Betsaida. Yesus sendiri naik ke bukit dan berdoa. Di sini, ada satu ketaatan yang dikerjakan oleh murid-murid. Tidak dicatat ada percekcokan di antara mereka ketika Yesus menyuruh mereka pergi ke Betsaida. Mereka semua taat dan pergi ke Betsaida, naik perahu. Mereka naik ke perahu itu bukan atas kehendak mereka, tapi atas kehendak Tuhan.

Di tengah perjalanan mereka, ada angin sakal (merupakan gambaran cobaan yang Tuhan ijinkan dalam hidup kita). Menghadapi cobaan, mungkin seringkali kita berpikir, kita sudah melakukan apa yang Tuhan mau, kita sudah mengembalikan milik Tuhan, kita sudah melayani Tuhan, memberi persembahan, tapi kok Tuhan masih ijinkan pencobaan dalam hidup kita? Satu hal yang perlu kita ingat, bukan berarti kalau kita ikut kehendak Tuhan, pencobaan tidak akan datang dalam hidup kita. Ada banyak tokoh-tokoh dalam Alkitab yang hidup saleh (seperti Ayub, Yusuf, dsb) di hadapan Tuhan, tapi tetap ada cobaan silih berganti dalam hidup mereka.

Roma 12:2 berbunyi “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kita harus bisa membedakan mana kehendak Allah dan mana kehendak manusia. Tuhan ijinkan proses pendewasaan dalam hidup kita lewat cobaan yang terjadi. Kita harus tetap maju apapun cobaan yang datang dalam hidup kita. Jangan kita bandingkan hidup kita dengan orang-orang lain yang tidak mengenal Tuhan tapi hidup mereka terlihat seakan-akan diberkati Tuhan. Iman kita bisa bimbang kalau mata kita tertuju pada hal-hal seperti ini.

Yesus pergi ke bukit utk berdoa (Markus 6:46). Yesus naik ke bukit bukan untuk berleha-leha ato bersantai-santai sejenak di bukit, menikmati sunset mungkin setelah lelah menyampaikan Firman Tuhan. Tidak ! Yesus naik ke bukit untuk BERDOA. Ini salah satu bukti kepedulian Allah kepada kita. Ia tidak akan pernah membiarkan kita sendirian. Di tengah-tengah bahtera rumah tangga kita, di tengah-tengah pekerjaan kita, kesibukan kita, Yesus SELALU BERDOA untuk kita.

Yesus tidak berada secara fisik bersama murid-murid ketika Ia berdoa. Tapi Ia tahu persoalan yang dihadapi murid-murid. Ia pun tahu persoalan yang kita hadapi dan percayalah, Ia sedang bekerja di dalamnya. Walaupun Yesus tidak berada secara fisik bersama kita, Ia selalu menyertai kita, berdoa untuk kita, bahkan berperang bagi kita !

Bagi kita sekalianlah, Yesus berdoa (Ibrani 7:25). Ia menjadi pengantara kita dengan Tuhan. Ia menjadi "pengacara" bagi kita. Ia yg membenarkan hidup kita di hadapan Bapa. Bahkan, sampai sekarang pun juga Ia terus berdoa bagi kita.

Markus 6:48 mencatat, “Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, …”. Kata melihat di sini dalam bahasa Grika disebut Eido, artinya melihat dengan penuh pengertian. Kita tentu tahu kisah orang Samaria yang baik hati. Ketika ada seorang Yahudi yang dirampok dan dipukuli setengah mati sampai terkapar di pinggir jalan, tidak ada orang yang menolong dia. Seorang Lewi dan seorang imam yang melewati jalan itu hanya melihat dari jauh. Tidak ada belas kasihan yang muncul dalam hati mereka untuk menolong orang Yahudi itu. Tapi orang Samaria itu, melihat dengan penuh pengertian, sehingga ia segera menolong orang Yahudi itu. Bukan hanya ia mengantar orang ini ke penginapan, ia bahkan menyuruh orang mengobatinya, dan ia akan menambahkan pembayaran biaya pengobatannya jika masih kurang. Tuhan pun melihat segala masalah kita dengan penuh pengertian, penuh belas kasihan.

Dalam hidup rumah tangga, perlu pengertian antara suami istri, antara orang tua dan anak. Harus ada kepedulian dan tenggang rasa dalam keluarga, ini perlu. Sebagai anak-anak Tuhan, kita harus bisa melihat orang lain dgn pengertian. Kita bisa menolong orang lain, bukan hanya lewat harta kekayaan tapi terlebih lewat doa dan perhatian kita.

Yesus terus berdoa sampai tengah malam. Jam 3 pagi Ia mengambil keputusan setelah Ia melihat (dengan pengertian) betapa payahnya murid-murid mengayuh perhu itu. Ia datang kepada mereka berjalan di atas air. Kenapa Yesus harus berjalan di atas air? Kalau dipikir-pikir, Ia bisa aja langsung teleport masuk ke perahu.

Yesus berjalan di atas air karena Ia ingin menyatakan diri-Nya sbg Anak Allah, Ia ingin memperlihatkan kuasa-Nya. Ia telah membuat mukjizat pada siang hari, memberi makan lima ribu orang dengan 5 roti dan 2 ikan. Yesus ingin menunjukkan diri-Nya kepada murid-murid, bahwa Ia adalah guru yang bukan hanya sekedar guru, tabib yang bukan hanya sekedar tabib, tapi benar-benar Ia adalah Anak Allah yang berkuasa.

Yesus ingin memberikan contoh kepada murid-murid. Walaupun angin sakal begitu kencang, Ia ingin menunjukkan bahwa Ia akan tetap berjalan maju ke arah kita (baca, murid-murid). Apa yang kita alami, Ia sudah tahu terlebih dahulu. Kita harus jadi anak-anak Tuhan yang tidak gampang menyerah. Angin sakal boleh datang, cobaan boleh datang, dukacita boleh silih berganti menyambangi hidup kita, tapi kita harus yakin, Allah kita yang luar biasa, sedang bekerja lewat semua itu, dan kita harus tetap bergerak maju !

Dalam ayat 48 juga dituliskan, “Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.“ Yesus berjalan di atas air, menuju murid-murid, tapi lho kok Ia hendak melewati mereka? Bukankah tujuan Yesus datang adalah untuk menolong murid-murid? Kenapa Ia malah mau melewati mereka? Karena Yesus ingin melihat respon dari murid-murid. Ia tentu mengharapkan respon yang positif dari murid-murid, tapi mereka malah mengira Ia adalah hantu.

Manusia mudah sekali berpikir negatif dan memberi respon yang negatif ketika menghadapi persoalan. Bisakah kita tetap cinta Tuhan, tetap melayani Tuhan, latihan ini itu yang tentunya menyita waktu kita, ketika kita menghadapi anggota keluarga kita sakit atau dukacita ketika ada keluarga kita yang dipanggil Tuhan? Bisakah kita tetap menyembah Tuhan dan tidak bersungut-sungut? Tentu bukan hal yang mudah.

Tuhan sudah atur segala sesuatu yang terjadi, pasti terjadi untuk kebaikan kita. Ketika cobaan datang sebagai teguran, biarlah kita cepat sadar. Ketika cobaan datang untuk mendewasakan kita, kiranya kita bisa terus mengucap syukur. Ketika murid-murid takut, Yesus berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Ia naik ke perahu dan angin pun redalah. Yesus juga mengatakan hal yang sama kepada kita, jangan takut ! Ketika Yesus naik ke perahu hidup kita, angin pun redalah. Walaupun angin itu datang lagi, Yesus akan tetap ada di sisi kita, untuk menolong kita (Mazmur 23:4).

SEKALIPUN AKU DALAM LEMBAH KELAM

KU TAK TAKUT SBAB KAU BESERTAKU

PENOLONGKU HANYALAH DIRIMU

PENGHIBURKU HANYA ENGKAU, BAPAKU YANG SETIA

(K Paul)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: