Home > Renungan > Kesanggupan Melihat Kesalahan Orang Lain Tanpa Ada Kritikan

Kesanggupan Melihat Kesalahan Orang Lain Tanpa Ada Kritikan

pillow-fight_~tow0032 Kritik adalah kecaman disertai dengan uraian yang pada akhirnya bisa menjadi celaan atau hinaan atau cemooh. Kritik terjadi karena ada yang tidak sesuai baik secara pandangan, ide, atau gagasan; ketidakseimbangan atau ketidakcocokan dalam pola pikir. Tuhan Yesus dan Paulus juga banyak menyampaikan kritik, namun kritik yang mereka berikan adalah kritik yang membangun (Wahyu 2:2-5). Pada zaman gereja mula-mula, ada ratusan jemaat kecil, namun ketujuh jemaat ini diangkat mewakili jemaat Tuhan pada akhir zaman ini. Kritik yang pedas disampaikan kepada jemaat Tuhan di Efesus karena mereka telah meninggalkan kasih mereka yang semula (Wahyu 3:15-16). Alkitab tidak melarang adanya kritik selama kritik itu membangun jemaat.

Naomi memberikan kritik (masukan/gagasan) kepada Rut dalam Rut 2:22-23 supaya ia mengikuti pengerja-pengerja perempuan Boas. Yesus juga mengkritik orang-orang yang walaupun mempunyai pemahaman luar biasa akan kitab Taurat namun tidak mengenal Yesus yang adalah Mesias (Lukas 12:54-56, Matius 16:2-4). Paulus juga mengkritik jemaat di Galatia karena mereka hampir saja kembali lagi kepada hukum Taurat (Galatia 3:1).

Alkitab tidak melarang kritik/dorongan dari kita kepada orang lain, atau dari orang lain kepada kita. Namun satu hal yang perlu diperhatikan ketika memberikan sebuah kritik adalah kritik tersebut harus mempunyai sebuah solusi. Ketika orang-orang Farisi membawa perempuan yang berzinah ke hadapan Yesus, Yesus tidak mengkritik perempuan itu. Ia memberikan solusi, yaitu agar wanita itu bertobat dan jangan berbuat dosa lagi. Yesus juga memberikan solusi, bukan tuduhan, kepada wanita Samaria yang bertemu dengan Yesus di sebuah sumur. Intinya, tidak ada masalah dengan kritik, selama kritik itu membangun. Jemaat di Asia Kecil dibangun oleh kritik-kritik Paulus dalam surat-suratnya.

Setiap hari kita banyak melihat kesalahan orang lain dan orang lain pun tidak jarang melihat kesalahan kita. Yang perlu kita ingat, ketika kita melihat kesalahan orang lain, jangan kita menghakimi orang itu. Yesus tidak menghakimi ketika Ia ada di dunia ini (Lukas 9:51-56).  Ketika orang-orang Samaria tidak mau menerima Dia dalam perjalanan-Nya menuju Yerusalem, murid-murid Yesus ingin berdoa supaya api turun dari langit dan membinasakan orang-orang Samaria itu. Tapi apa yang Yesus lakukan? Ia tidak menghakimi mereka, justru Ia menegor murid-murid-Nya dan memilih untuk pergi ke desa lain. Tuhan Yesus tidak menilai kesalahan manusia secara berlebihan. Kita pun perlu melakukan hal yang sama, supaya orang lain jangan menjadi kecewa dan lemah imannya.

Nah, bagaimana kita mengaplikasikan hal ini dalam kehidupan kita sehari-hari?

Ingatlah, cara pandang Allah adalah kasih (Ayub 36:5). Tuhan tidak memandang hina walaupun kita melakukan kesalahan yang sangat besar. Allah penuh dengan kasih kepada umat manusia. Itulah cara pandang Allah yang diteladani oleh Paulus (Mazmur 22:25).

Lalu, bagaimana caranya kita bisa memberi kritik kepada orang lain tanpa menjatuhkan orang itu?

  • Milikilah cara pandang Allah

    valentine_hearts_clip_art Allah tidak memandang hina orang yang salah, kita pun seharusnya juga tidak memandang hina orang lain yang bersalah kepada kita.  Maaf dan permakluman Allah sungguh luar biasa. Ia menunggu dengan sabar untuk semua orang bertobat. Tuhan begitu panjang dan lebar dalam kasih-Nya.

    Mikha 7:19 menuliskan, “Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.” Tubir laut adalah tempat yang paling dalam di dalam laut. Bayangkan, Tuhan melemparkan dosa-dosa kita ke dalam tubir laut, tempat yang paling dalam, dan Ia tidak mengingat-ingatnya lagi.  Betapa kita pun perlu meneladani hal ini.

  • Penuhilah hati kita dengan kasih

    Kasih tetap berlaku apapun kemasannya. Kasih bisa berbentuk keras; kemasannya tidak selalu lemah lembut. Allah mungkin tidak tega melihat kita menangis, tapi Ia akan berkata “Belum waktunya” untuk kebaikan kita.

    Kita baru bisa menyuarakan kasih jika hati kita penuh dengan kasih (I Petrus 4:8, I Korintus 13:5). Kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kritik harus bermuatan kasih, tulus, jujur dan apa adanya.

  • Penuhilah hati kita dengan buah-buah Roh

    Salah satu buah Roh adalah penguasaan diri (Galatia 5:23). Penguasaan diri berarti ada rem atau kontrol dalam hidup kita (Ayub 27:3-6). Berikan keleluasaan bagi Roh Allah untuk berkarya dalam hidup kita.

  • Penuhilah hati kita dengan Firman Tuhan

    Kritik harus berdasarkan Firman Tuhan, karena Firman Tuhan berfungsi mengajar, menyatakan kesalahan dan membawa kita semakin mengerti kehendak Tuhan (II Timotius 3:16). Firman Tuhan adalah kebenaran dan harus menjadi kompas dalam hidup kita(Yohanes 7:17). Saat hidup kita dipenuhi oleh Firman Tuhan, yang keluar dari mulut kita pasti Firman Tuhan. Kalau hidup kita kosong, yang keluar adalah pemikiran-pemikiran kita yang terbatas. Firman Tuhan dan Roh Kudus bagaikan dua sayap bagi kita. Berikanlah kritik dengan segala kesabaran dan pengajaran (II Timotius 4:2).

  • Mempunyai kesadaran sepenuh-penuhnya bahwa hidup kita pun masih banyak kesalahan

    Dalam keberadaan kita sebagai manusia, pasti masih ada sisi-sisi yang penuh dengan kesalahan. Kita bukan manusia yang sempurna; kehidupan kita belum mencapai kesempurnaan. Hanya Tuhan yang bisa menilai apakan kita sudah sempurna (Matius 7:1-2). Sadarlah kita bukan manusia yang sempurna. Posisikan diri kita pada posisi orang lain dan milikilah empati yang lebih. Kita harus punya cermin agar kita bisa mawas diri. Seberapapun kuatnya kita, kita masih punya kelemahan.

  • Milikilah semangat dalam memberi damai sejahtera dan membangun sesama kita

    Ada orang-orang yang merasa puas sekali jika ia sudah berhasil menjatuhkan orang lain. Kita sebagai anak-anak Tuhan, harus berdiri di tempat yang berbeda. Kita harus punya semangat untuk membangun damai sejahtera, sepahit apapun situasinya. Jangan kita menjadi batu sandungan bagi orang lain (I Korintus 10:32). Apapun situasinya, kejarlah damai sejahtera dan yang membangun (Roma 14:19). Titus 1:13 berkata agar kita menegur orang lain dengan tegas supaya orang itu bisa sehat dalam iman. Koridornya damai sejahtera dan membangun.

prayers_4791c Berikut ini beberapa kiat untuk menyampaikan kritik dengan baik:

  • Sampaikan kritik secara pribadi (II Samuel 12:1, Matius 18:15). Ketika Daud berbuat dosa, Natan datang secara pribadi kepada Daud untuk menegor dia dan menyadarkannya dari kesalahannya.
  • Sampaikan dengan benar, tulus, dan jujur, serta penuh dengan kemurnian (I Timotius 5:12). 
  • Pilih waktu dan suasana yang sebaik-baiknya. Pilihlah kata-kata yang penuh hikmat (Kolose 3:16-17). Sebaiknya kita berdoa dulu, meminta hikmat dari Tuhan, supaya perkataan Kristus dengan segala kekayaan-Nya (kekayaan hikmat) diam dalam diri kita.
  • Berdoa minta pimpinan Roh Kudus, agar kita menjadi garam dan terang, menjadi berkat.
  • Jika memang diperlukan, ajak hamba Tuhan. Ajaklah orang yang dituakan secara rohani.

Mendidik dalam bahasa Galatia sama artinya dengan mencambuk. Ketika kita mengkritik orang lain, kurang lebih akan dirasakan seperti cambukan. Begitupun ketika kita menerima sebuah kritik. Karena itu, ingatlah kritik diberikan untuk membangun dan dibangun, untuk kebaikan kita semua. Mari menjadi berkat !

(Kak Yudi)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: