Home > Renungan > Iman

Iman

figce07 Banyak orang ketika berhadapan dengan masalah menjadi ragu dan bertanya-tanya apakah Tuhan akan menolong mereka. Tidak sedikit yang meninggalkan Tuhan dan mulai mengandalkan hal-hal lain. Dalam dunia yang begitu gelap dan sukar ini, bagaimanakah kita bisa mempertahankan iman percaya kita kepada Tuhan?

Ketika Musa lahir, bangsa Israel sedang ada dalam perbudakan di tanah Mesir. Untuk mengurangi populasi orang Israel di tanah Mesir, Firaun pada waktu itu mengeluarkan perintah untuk membunuh seluruh bayi laki-laki yang dilahirkan orang-orang Israel. Firman Tuhan dalam Ibrani 11:23 menuliskan, “Karena iman maka Musa, setelah ia lahir, disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya, karena mereka melihat, bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja.” Secara manusia, ada resiko yang begitu besar ketika orang tua Musa menyembunyikan dia. Kalau mereka ketahuan, tentu mereka akan dibunuh. Tapi ada tangan Tuhan yang kuat, yang melindungi hidup Musa pada waktu itu, bahkan ketika ia masih bayi.

Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap tekun berdoa dan menyembah Allah, walaupun pada waktu itu ada peraturan yang melarang mereka menyembah allah manapun. Mereka pun ditangkap dan dilemparkan ke dapur api. Tapi di sana, di tengah-tengah api pun, ada tangan Allah yang kuat, yang melindungi mereka sehingga mereka tidak terbakar dalam nyala api yang dashyat itu. Ada pembelaan Allah di sana dan Ia melindungi orang-orang yang bersandar kepada-Nya.

Iman menuntut pilihan yang tepat. Musa telah diangkat menjadi anak putri Firaun, yang artinya dia tentu boleh menikmati seluruh fasilitas yang disediakan di istana Mesir. Namun setelah ia menjadi dewasa, ia menolak disebut anak puteri Firaun (Ibrani 11:24-25), yang artinya tentu segala fasilitas itu tidak boleh dinikmati lagi. Musa memilih untuk menderita sengsara dengan umat Allah, daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ketika bangsa Israel telah menempati tanah Kanaan, Yosua menghadapkan mereka pada sebuah pilihan, apakah mereka akan tetap beribadah kepada Allah atau kepada allah-allah lain. Tapi Yosua membuat pernyataan yang tegas, bahwa ia dan seisi rumahnya akan beribadah kepada Allah (Yosua 24:15).

Iman membutuhkan ketaatan. Ketika Musa membuat pilihan untuk berada bersama umat Allah, ia tidak memiliki gambaran akan masa depannya. Menurut pandangan manusia, meninggalkan seluruh kenyamanan di istana Mesir tentu merupakan keputusan yang bodoh, apalagi lwcF_CRD_mus_PROD005093565_rock_solid_clipart_title_JPEGkalau semua itu ditinggalkan untuk sebuah masa depan yang tidak jelas. Walaupun begitu, Musa tetap mempertahankan imannya dan berani mengambil pilihan itu (Ibrani 11:26-27). Jika Allah menuntun kita, pasti ada masa depan.

Iman menuntut keyakinan. Ketika Allah memerintahkan bangsa Israel untuk memercikkan darah anak domba ke pintu rumahnya, mereka melakukannya seperti perintah Tuhan. Sekali lagi, menurut pandangan manusia, apa hubungannya antara percikan darah anak domba dengan perlindungan bagi anak-anak sulung mereka? Tidak ada. Walaupun begitu, mereka tetap yakin kepada Tuhan dan taat (Ibrani 11:28). Iman menuntut keyakinan kita akan janji-janji Tuhan, betapapun kecilnya kemungkinan janji itu digenapi. Kita harus menyadari betapa pikiran manusia kita yang terbatas ini, tidak sanggup menyelami betapa besar dan luasnya pemikiran dan rencana Tuhan bagi kita.

Iman menyelesaikan segala kesulitan. Ketika bangsa Israel dikejar oleh orang Mesir, mereka dihadapkan dengan Laut Merah. Betapa kenyataan itu begitu menciutkan hati mereka. Tapi pada saat itu nyata perlindungan Allah atas mereka dan ia membuka jalan di tengah-tengah Laut Merah itu. Bangsa Israel melintasi Laut Merah sama seperti melintasi tanah kering, sementara orang-orang Mesir tenggelam ketika mereka mencobanya juga (Ibrani 11:29). Percayalah bahwa Allah sanggup meluputkan kita dari segala pergumulan yang kita lewati.

Mari kita belajar dari Musa. Hidup tidak luput dari suka dan duka; tidak lepas dari tantangan dan pergumulan. Tapi milikilah iman bahwa di tengah-tengah semuanya itu, tangan Tuhan selalu menyertai kita; perlindungan-Nya tidak pernah lepas menaungi kita; dan bahwa Ia mengajar kita lewat semuanya itu, untuk tetap teguh dalam Dia, apapun keadaannya. God bless us all ^^

(Kak Marshen)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: