Home > Renungan > Pelayanan Harus Jadi Nomor 1? Selalu?

Pelayanan Harus Jadi Nomor 1? Selalu?

Visi Tuhan dijabarkan dalam Matius 20:28, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

Yesus yang adalah Raja di atas segala Raja, rela datang ke dunia dan mengambil rupa seorang hamba (Filipi 2: 5-7). Siapakah Yesus? Ia adalah pokok anggur dan kitalah rantingnya (Yoh 15:5). Ia adalah kepala tubuh (Kol 1:18), Anak yang sulung (Roma 8:29), serta Batu penjuru (I Pet 2:6). Di Yerusalem, tiang pintu dibuat dari berbagai batu, namun ada satu batu yang merupakan batu penjuru. Kalau batu penjuru itu dicabut, seluruh tiang itu akan roboh.

Sebagai orang percaya, panggilan kita adalah menjadi serupa dengan Yesus (Roma 12:1-2). Apa yang menjadi visi dan misi Yesus, yaitu melayani, haruslah menjadi visi dan misi kita. Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita adalah Kristen anak. Anak belum mengerti tentang hak dan kewajibannya, yang bisa mereka lakukan adalah meminta dan meminta. Ketika kita bertumbuh, kita menjadi Kristen dewasa, yang sudah mengerti hak dan kewajibannya. Kristen dewasa akan menjadi Kristen hamba/pelayan, yang memiliki kerinduan untuk melayani Bapanya. Kemudian dalam Yoh 15:15, dikatakan kita lalu menjadi Kristen sahabat, yang mengerti kerinduan Tuhan, dan selalu rindu untuk mengerjakan visi dan misi Tuhan.

Pertanyaan itu kembali muncul, apakah pelayanan harus jadi nomor satu? Jawabannya, YA ! Pelayanan harus jadi prioritas utama dalam hidup kita. Kalo begitu, apa kita harus SELALU ada di gereja, 24-7 siap melayani? Satu hal yang perlu kita mengerti adalah pelayanan itu sangat luas bentuknya. Mungkin kita tidak ada di gereja setiap hari, setiap menit, setiap detik; tapi kita menjadi saksi dalam perkataan dan perbuatan kita, menjadi berkat dalam dunia studi dan kerja; ini pun merupakan pelayanan. Berdoa, mengunjungi yang sakit, bahkan hal simple seperti mengirim SMS berupa ayat-ayat Firman Tuhan; semua ini merupakan bentuk-bentuk pelayanan.

Pelayanan adalah ekspresi kasih kita kepada Tuhan. Tuhan tidak melihat pelayanan yang kelihatan di mata manusia; Tuhan melihat motivasi di balik pelayanan itu. Adakah hati kita benar-benar tertuju kepada Tuhan ketika kita melayani? Apakah kita benar-benar memuliakan Tuhan dalam setiap pelayanan kita? Biarlah melayani menjadi semangat dan kerinduan kita, menjadi detak jantung kita.

Nah, kalo kita dihadapkan pada pilihan antara melayani atau berkumpul dengan keluarga serta orang-orang terdekat, gimana dunkz? Tanggal 14 Februari kemaren adalah hari Imlek namun juga merupakan hari minggu. Mana yang harus kita pilih? Apakah kita harus memilih? Berkumpul dengan keluarga tentu saja sangat penting, namun mari kita meluangkan waktu baik sebelum maupun sesudah berkumpul dengan keluarga, untuk beribadah kepada Tuhan. Melakukan hal ini tentu saja tidak semudah mengucapkan dengan kata-kata. Kalau kita belom bisa karena keluarga belum mendukung, selalu bawa dalam doa, agar Tuhan melembutkan hati keluarga kita.

Seperti sebuah quote yang tentu pernah kita dengar, “God doesn’t call the equipped; He equips the called”, Tuhan tidak perlu mereka yang ahli untuk melayani Dia, karena Ia sanggup memperlengkapi mereka yang terpanggil. Kalau kita diajak untuk melayani dalam bidang yang mungkin bukan merupakan keahlian kita, jangan berkecil hati. Tuhan mampu memperlengkapi kita untuk pekerjaan pelayanan-Nya. Menjadi seorang ahli, tentu mulai dari hal-hal yang kecil, yang dasar, ga mungkin langsung ke yang besar. Karena  itu, jangan takut untuk mencoba dan kalau benar-benar bidang itu adalah panggilanmu, kerjakan dengan setia dan tekun untuk Tuhan.

Kadang kita mengalami hal-hal yang dilematis dalam kehidupan kerja. Bagaimana kita menjadi garam dan terang dunia kalau kepentingan kita yang jadi taruhannya? Misalnya bos kita mengeluarkan kebijakan baru yang merugikan karyawan, trus semua orang sahut-sahutan memprotes hal itu. Sebagai anak Tuhan, kita diperbolehkan untuk memperjuangkan hak-hak kita, tapi hati-hati, jangan sampai ada kata-kata kutuk yang keluar dari mulut kita. Jangan sampai perkataan kita menjadi batu sandungan buat orang lain. Kita pun boleh bersikap professional dan mencari pekerjaan lain yang lebih baik, jika hasil akhir dari negosiasi itu kurang memuaskan bagi kita.

Jadi sekali lagi ditekankan bahwa melayani haruslah menjadi prioritas utama dalam hidup kita karena Tuhan pun meneladankan hal yang sama, bahwa Ia datang untuk melayani, bukan untuk dilayani. Namun perlu diingat, bahwa bentuk pelayanan sangat luas. Pelayanan dapat diterjemahkan dalam banyak hal dan bisa kita lakukan dalam setiap segi kehidupan kita sehari-hari. Mari kita terbeban untuk aktif melayani Tuhan dan sesama; mari kita menjadi berkat; mari kita terus mengembangkan seluruh talenta yang kita miliki untuk kemuliaan-Nya. Haleluya !

(Kak Yudi)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: