Pria Pemimpin & Wanita Penolong

August 16, 2013 Leave a comment

PRIA PEMIMPIN

men-clipart Berbicara tentang pria sebagai seorang pemimpin, tidak lepas dari fungsi pria, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Banyak pria di akhir zaman ini tidak lagi berfungsi dengan benar, sesuai dengan apa yang Tuhan mau dalam hidupnya. Pria adalah penentu nasib, nasib keluarganya dan nasib lingkungannya (masyarakat). Keluarga hancur ketika para pria tidak berfungsi dengan baik. Karena itu para pria harus dibangkitkan kembali.

Beginilah cara Firman Tuhan berbicara tentang Daud, Lalu jawab salah seorang hamba itu, katanya: "Sesungguhnya, aku telah melihat salah seorang anak laki-laki Isai, orang Betlehem itu, yang pandai main kecapi. Ia seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara, elok perawakannya; dan TUHAN menyertai dia." (I Samuel 16:18).

Kata “anak laki-laki” dalama ayat ini, dalam bahasa aslinya berarti “ben” atau “bin”, yang artinya anaknya (Yosua bin Nun, artinya Yosua anaknya Nun). Kata “ben” sendiri berasal dari kata ”banha”, yang artinya founder (pendiri atau pembangun). Jadi pria pemimpin adalah PRIA PENDIRI. Nabi Elia ketika berada di gunung Karmel, memperbaiki (mendirikan kembali) mezbah Tuhan yang sudah rusak. Salomo mendirikan Bait Allah. Yesus mendirikan gereja. Tuhan memberi tugas yang khusus, kerinduan yang spesifik, kepada Anda, para pria ! Apa yang Tuhan taruh dalam hati kita, kerjakanlah itu. Apapun tantangan yang kita hadapi, berapa kali pun kita gagal, janganlah kita ragu, maju terus dan jangan menyerah. Dirikanlah (baca, kerjakanlah) itu !

Suatu kali, bangsa Israel tengah berperang dengan orang Filistin. Ketika mereka terpukul kalah oleh orang Filistin, bangsa Israel memutuskan membawa tabut perjanjian ke tengah-tengah medan peperangan, dengan harapan Tuhan hadir dan berperang untuk mereka. Ketika tabut itu sampai ke perkemahan, bersoraklah bangsa Israel dengan nyaring sehingga bumi bergetar. Ketika orang Filistin mendengar suara sorakan bangsa Israel, gentarlah mereka dan sangat ketakutan. Kemudian orang Filistin itu berkata, “Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki, hai orang Filistin, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!"

Orang Filistin berperang juga, dan Tuhan ijinkan bangsa Israel terpukul kalah dan tabut Tuhan dirampas, karena bangsa Israel telah berbuat jahat dan meninggalkan jalan Tuhan. Tapi bukan itu yang akan kita bahas di sini. Filistin adalah lambang dosa tapi mereka bisa berkata, berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah.

Kita sering mendengar istilah “hati bapa”, bagaimana kita memiliki hati seorang bapa bagi jiwa-jiwa, bagi keluarga kita. Hati bapa telah dirampas dari para pria jaman sekarang, sehingga mereka tidak mampu berperan sebagai bapa bagi keluarga mereka. Akibatnya, keluarga mereka (anak-anak) tidak melihat sosok bapa yang benar dalam diri para pria dan mereka tumbuh menjadi anak-anak yang tidak memiliki kemampuan menjadi bapa. Begitulah siklus jahat yang terus diputar oleh iblis di jaman akhir ini. Dalam bahasa Yunani, kata ”bapa” ditulis dengan kata ”patel”, yang artinya sumber. Kita harus menjadi bapa (sumber) bagi keluarga kita. Jangan sampai orang lain, yang tidak mengenal Tuhan, yang manjadi bapa (sumber) bagi keluarga kita.

Dalam ayat I Samuel 4:9 di atas, kata “laki-laki” dalam Alkitab terjemahan bahasa inggris ditulis dengan kata “martial man”, yang artinya pria perusak ato pembinasa. Iblis merusak para pria dan menjadikan mereka pria-pria seperti ini. JANGAN JADI PRIA PERUSAK/PEMBINASA. Pada jaman Musa, Firaun membunuh semua anak laki-laki. Pada jaman Yesus, Herodes membunuh semua anak laki-laki berusia di bawah dua tahun. Firaun dan Herodes adalah contoh pria-pria perusak. Jangan biarkan pria-pria macam ini menjadi bapa (sumber) bagi keluarga kita.

I Korintus 16:13 menuliskan, “Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!” Kata “laki-laki” di sini tidak sama dengan I Samuel 4:9. Di sini, kata ini dituliskan “manly“ yang artinya jantan, gagah, maskulin, berani. Pria harus menjadi PRIA PEMIMPIN, menjadi suami dan bapa yang baik.

Dalam keluarga, pria pemimpin memiliki peran berikut ini:

  • Sebagai imam

    Setiap pagi ia akan mengangkat tangannya, berdoa kepada Tuhan, dan memberkati istri, anak-anak, dan keluarganya. Ia akan berdoa supaya keluarganya terpelihara dalam kasih dan kebaikan Tuhan. Walaupun istri kita mungkin masih tidur, kewajiban para pria adalah untuk bangun setiap pagi dan memberkati keluarganya.

  • Sebagai raja

    Pria sebagai seorang pemimpin juga berperan sebagai raja. Ia dilayani tapi ia juga pemberi keputusan. Mintalah hikmat Tuhan dalam setiap keputusan yang kita ambil.

  • Sebagai nabi

    Pria harus membawa keluarganya lebih dekat kepada Tuhan. Pria bertanggung jawab menjadi juru bicaranya Tuhan, membagikan kebenaran Firman Tuhan, dan mengajarkan Firman Tuhan berulang-ulang kepada anak-anak.

    WANITA PENOLONG

mama_cookIsteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.” (Amsal 31:10-12)

Kitab Amsal katakan, istri yang cakap, siapa yang akan mendapatkannya? Kalau kita bicara tentang cakap, terutama pada wanita, tentu teringat akan 3B (Brain, Behavior, Beauty – Kepintaran, Sifat, Kecantikan). Tiga hal ini yang biasanya dicari dari seorang wanita. Bahkan setiap tahun ada ajang mencari wanita tercantik se-Indonesia, bahkan sedunia.

Kecantikan wanita datang dari dalam, dari hatinya. Kecantikan lahiriah hanya sementara sifatnya. Wanita bisa saja merias wajahnya dan tampil cantik di depan semua orang. Namun walaupun riasan wajah membuat wanita itu cantik, tentu seluruh make up itu akan dibersihkan ketika ia pulang ke rumah. Riasan wajah itu tidak dipakai ketika tidur. Mengapa? Salah satunya untuk menjaga kulit wajah tetap baik, dsb. Kecantikan lahiriah sementara sifatnya. Yang kekal adalah kecantikan dari dalam, dari hati.

Setelah Tuhan Yesus berdoa di bukit, wajah-Nya bersinar, memancarkan kemuliaan Allah. Wajah Musa juga bersinar setelah ia bertemu dengan Allah di gunung Sinai. Wajah Stefanus juga bersinar, seperti malaikat, setelah ia bersaksi tentang Yesus. Ini menggambarkan sebuah metamorfosa, artinya sebuah perubahan yang permanen, yang tidak akan kembali lagi seperti semula. Ini terjadi setelah mereka berjumpa dengan Tuhan.

Ayat 11 dalam Amsal 31 menuliskan, “Hati suaminya percaya kepadanya, …” Setiap istri perlu membangun kepercayaan pasangannya, karena orang yang dipercaya mendapat banyak berkat. Ketika kita dipercaya, suami akan memuji kita (Amsal 31:28). Pujian kepada seorang wanita, harus pertama-tama datang dari keluarga. Wanita dipuji karena ia takut akan Tuhan dan hasil karyanya, perbuatannya, itulah yang akan memuji dia.

Wanita disebut penolong bagi pria. Kata “penolong” identik dengan Roh Kudus. Amsal katakan istri yang cakap lebih berharga dari permata. Dalam Alkitab, hanya tiga hal yang disebutkan lebih berharga dari permata, yaitu Roh Kudus, Firman Tuhan, serta istri yang cakap. Istri yang cakap, yang takut akan Tuhan, disamakan dengan Roh Kudus dan Firman Tuhan. Ketika seorang istri takut akan Tuhan, kecantikannya akan terpancar dengan sendirinya. Ia pun akan mendorong suaminya, anak-anaknya, keluarganya semakin dekat dengan Tuhan, sehingga seluruh keluarganya diberkati. Marilah kita menjadi wanita-wanita penolong dalam Tuhan !

(K Eman)

Ketekunan

August 2, 2013 Leave a comment

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tekun artinya rajin, keras hati, dan bersungguh-sungguh. Dalam Alkitab terjemahan NIV, kata tekun ditulis dalam beberapa kata berikut ini:

  • Unswerving, artinya teguh, tidak menyimpang

    “I will establish his kingdom forever if he is unswerving in carrying out my commands and laws, as is being done at this time.”
    (I Tawarikh 28:7)

    Ini adalah Firman yang Tuhan sampaikan kepada Daud mengenai anaknya, Salomo. Tuhan akan menyertai kerajaan Salomo selama ia bertekun (unswerving), teguh dan tidak menyimpang dari jalan Tuhan. Tuhan pun akan menyertai kita, selama kita terus bertekun dalam jalan Tuhan.

  • Set his heart, artinya hati yang tertuju kepada Tuhan

    “He did evil because he had not set his heart on seeking the Lord.” (II Tawarikh 12:14)

    Ketika Salomo jatuh ke dalam dosa, kerajaan Israel terpecah menjadi dua, yang dipimpin oleh Raja Yerobeam dan Raja Rehabeam. Ayat di atas ditulis khusus untuk menyimpulkan kisah hidup raja Rehabeam. Ia melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, karena ia tidak bertekun (set his heart) mencari Tuhan. Baiklah adanya jika kita mempunya hati yang tertuju kepada Tuhan, hati yang mau tekun mencari Dia.

  • Done with diligence, artinya kerjakan dengan rajin

    “Whatever the God of heaven has prescribed, let it be done with diligence for the temple of the God of heaven. Why should his wrath fall on the realm of the king and of his sons?” (Ezra 7:23)

    Setelah bangsa Israel ditawan di Babel untuk beberapa waktu lamanya, Tuhan berkenan membawa Ezra kembali ke Yerusalem. Raja Babel pada waktu itu, Artahsasta, memberi Ezra surat jalan untuk membawa emas, perak, serta persembahan lainnya untuk dipersembahkan kepada Allah. Dalam suratnya, raja menuliskan bahwa segala sesuatu yang berdasarkan perintah Tuhan harus dilaksanakan dengan tekun (done with diligence) untuk keperluan rumah Allah. Seorang raja yang tidak mengenal Tuhan bisa memberikan perintah ini kepada Ezra. Apalagi kita yang sudah mengenal Tuhan. Kita harus lebih tekun lagi, lebih rajin lagi, lebih setia lagi kepada Tuhan.

  • Serve continually, artinya melayani dengan konsisten

    “So the king gave the order, and they brought Daniel and threw him into the lions’ den. The king said to Daniel, “May your God, whom you serve continually, rescue you!” (Daniel 6:16)

    Kita tentu tahu kisah Daniel yang dibuang ke gua singa. Daniel tetap menyembah Tuhan walaupun ada larangan dari raja untuk menyembah allah manapun. Alhasil, Daniel dibuang ke gua singa. Raja begitu gelisah dan hanya bisa berkata, "Allahmu yang kausembah dengan tekun (serve continually – layani dengan terus-menerus), Dialah kiranya yang melepaskan engkau!" Terbukti Allah sanggup melepaskan Daniel dari mulut singa-singa yang lapar itu. Itulah bukti betapa Allah menghargai pelayanan kita, bahkan Allah sangat menghargai waktu yang kita berikan khusus untuk menyembah Tuhan.

  • Perseverance, artinya kemampuan untuk bertahan

    “Not only so, but we also glory in our sufferings, because we know that suffering produces perseverance; perseverance, character; and character, hope.“ (Roma 5:3-4)

    Surat Paulus kepada jemaat Roma mengingatkan kita bahwa kesengsaraan kita menimbulkan ketekunan (perserverance), dan ketekunan menimbulkan tahan uji, yang akhirnya akan menimbulkan pengharapan. Betapa kita diajar bahwa segala dukacita dan kesusahan yang kita alami, hanyalah sebuah proses agar kita lebih bertekun lagi di dalam Tuhan.

  • Devoted, artinya setia, berdedikasi

    “Until I come, devote yourself to the public reading of Scripture, to preaching and to teaching.” (I Timotius 4:13)

    Rasul Paulus mengingatkan Timotius untuk bertekun (devoted) dalam membaca Kitab Suci. Devoted artinya kita memiliki dedikasi, komitmen untuk bertekun. Komitmen dan dedikasi bukan sesuatu yang kita lakukan hanya sekali dua kali saja, tapi terus menerus.

    Firman Tuhan jelas sekali menjelaskan bahwa hanya orang yang tekun sajalah yang akan menghasilkan buah (Lukas 8:15), bahkan dengan porsi ganda (Yakobus 5:11). Sekalipun kita telah melakukan kehendak Tuhan, jika tidak disertai ketekunan, janji-janji-Nya tidak akan kita peroleh. Zaman modern yang serba instan ini telah memudarkan arti ketekunan. Manusia cenderung “mau cepatnya saja”. Tapi orang-orang yang bertekunlah yang akan menerima janji-janji Tuhan. Biarlah kita tetap mau setia, tetap mau tekun, tetap mau teguh, tetap mau melayani Tuhan, berapapun umur kita, di manapun kita berada, apapun keadaan kita.

SEBAB KAMU MEMERLUKAN KETEKUNAN, SUPAYA SESUDAH KAMU MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH, KAMU MEMPEROLEH APA YANG DIJANJIKAN ITU.
(IBRANI 10:36)

Akhir Harus Lebih Baik Daripada Awalnya

July 26, 2013 Leave a comment

heaven “Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya.“ (Pengkhotbah 7:8a)

Allah kita adalah Allah yang bekerja dari awal sampai akhir (Pengkhotbah 3:11). Segala sesuatu ada akhirnya dalam kehidupan kita. Dalam pekerjaan, ada yang mengundurkan diri. Dalam kehidupan, ada yang meninggal. Bahkan hari-hari ini pun ada akhirnya (akhir zaman) seperti ditulis dalam Matius 28:20 dan I Petrus 1:5. Walaupun begitu, Tuhan menyertai kita sampai akhir zaman.

Ayat-ayat di Pengkhotbah ini mengisyaratkan pentingnya ada kemajuan dalam hidup kita, akhir harus lebih baik daripada awalnya. Paulus pernah menasihatkan kepada Timotius (I Timotius 4:15) supaya kehidupan Timotius mengalami kemajuan yang nyata kepada semua orang. Timotius adalah seorang muda yang diperkirakan umurnya masih 16 tahun pada waktu itu. Paulus menasihatkan supaya Timotius menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesuciannya. Bukan hal yang mudah bagi seorang muda untuk menjadi teladan, tapi itulah yang dituntut dari Timotius, dan juga kita semua.

Tuhan inginkan hidup kita lebih maju dari sebelumnya, menjadi pribadi yang mau maju, baik dalam kehidupan rohani maupun kehidupan jasmani.

Apa saja yang perlu terus maju dalam hidup kita:

  1. Kerajinan kita jangan sampai kendor (Roma 12:11)

    Karet gelang elastis, tapi semakin lama dipakai, dia bisa semakin kendor. Karet yang tadinya begitu kencang, begitu kuat, bisa menjadi kendor. Janganlah hendaknya kerajinan kita seperti karet gelang, mudah kendor. Jangan sampai kerajinan kita yang sudah baik, menjadi kendor. Kalau dari awal kita sudah setia, mari kita pertahankan, bahkan ditingkatkan. Pelayanan kita pun jangan sampai kendor. Dulu banyak anak Tuhan yang setia, lama-lama tidak beribadah lagi.

    Anak kecil kalau dapat mainan baru, pasti sangat antusias untuk main, ke mana-mana akan dipegang terus mainan itu, dimainkan dsb. Tapi ketika dia sudah tidur pulas, pegangannya akan mengendor, dan kita bisa ambil mainan itu dari tangannya. Rohani kita jangan sampai tertidur, sehingga keselamatan itu terlepas dari genggaman kita. Biarlah roh kita menyala-nyala dan melayani Tuhan. Pelayanan adalah suatu barometer kedekatan kita dengan Tuhan. Rohani kita terjaga dalam pelayanan.

  2. Kehidupan rohani kita harus terjaga (Pengkhotbah 9:8)

    Dosa2 dalam hidup kita jangan dibiarkan, tapi ingatkan diri kita untuk bertobat dan mengikuti jalan Tuhan. Akui dosa kita dan mohon pengampunan Tuhan. Minyak adalah lambang dari kuasa Roh Kudus. Biarlah kita selalu hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Kuasa Tuhan biarlah menjadi kebutuhan bagi kita. Dalam rumah tangga, banyak hal yang tiba-tiba terjadi, yang tidak pernah kitapikirkan, gelombang hidup dsb. Bisa jadi ada kekecewaan dsb. Tapi biarlah kita pasrah kepada Tuhan, bukan pasrah masa bodoh, tapi pasrah berserah kepada Tuhan, biarkan tangan Tuhan mengerjakan rencana-Nya dari awal sampai akhir. Kalau Yesus yang adalah kepala suka melayani, biarlah kita sebagai tubuh juga punya hati yang sama, suka melayani. Melayani adalah anugerah. (Roma 14:12)

Keadaan Yerusalem pada masa nabi Yeremia dituliskan dalam Ratapan 1:1-4. Perikop ini berbicara tentang keruntuhan dan kesunyian Yerusalem. Yeremia adalah seorang nabi yang suka meratap, karena keadaan saat itu memang menyedihkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Ratapan artinya jeritan yang menyedihkan. Bangsa Israel yang tidak ikut ke Babel datang ke Yeremia, supaya ia memohon kepada Tuhan untuk menolong mereka (Yeremia 42:2).

Naomi mengalami satu kepahitan dalam hidupnya. Dengan tangan yang penuh, ia pergi meninggalkan Betlehem. Dengan tangan yang kosong, ia kembali. Hal ini terjadi karena ia meninggalkan rumah roti (Betlehem), lambang kasih karunia Tuhan.

Yerusalem yang dahulu merupakan ratu kota, sebuah kota yang sangat ramai, sekarang sepi dan kosong. Segala sesuatu akan ada akhirnya. Tuhan masih berikan kesempatan kepada Naomi. Ia bisa kembali ke Betlehem, bersama Rut yang setia kepadanya dan Tuhan memberkati mereka. Kalau kita mengalami kegalauan yang luar biasa, dalam rumah tangga, pekerjaan, bahkan pelayanan, biarlah kita mau kembali pada kemurahan Tuhan.

KneelingAtTheCross Ingatlah kembali akan Tuhan, supaya jangan kita menjadi lemah dan putus asa (Ibrani 12:3-7). Paulus katakan ia telah mengakhiri pertandingan hidupnya dengan baik (II Timotius 4:7). Ketika ia membandingkan hidupnya dari awal sampai akhir, ia bisa berkata bahwa ia telah memelihara iman. Segala sesuatu yang baik yang kita kerjakan, biarlah kita terus lakukan, bahkan semakin maju dalam Tuhan. Kita memiliki Allah yang bisa kita percaya, Allah yang sanggup memberikan kita kekuatan dan kelegaan. Karena itu, maju saja, Tuhan selalu menyertai kita ! (Pdm. Yalina Dato)

Menaruh Kepercayaan Sepenuhnya

July 17, 2013 Leave a comment

rg-clipart-0603Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. (Ayub 42:2)

Menitipkan barang berharga kepunyaan kita kepada orang lain, tentu perlu ada kepercayaan. Kita perlu memiliki kepercayaan kepada siapa kita menitipkan barang berharga itu. Untuk memiliki kepercayaan kepada seseorang, kita perlu memiliki pengenalan yang baik akan orang itu. Untuk mengenal dengan baik, tidak cukup hanya seminggu sekali ketemu, ngobrol, dsb. Kita perlu hubungan yang kontinue, komunikasi yang terus menerus.

Sepasang suami istri tentu tidak memutuskan untuk menikah pada pertemuan pertama mereka. Tentu mereka harus melewati pertemuan yang terus menerus, mengenal dulu satu sama lain; artinya perlu ada rentang waktu untuk betul-betul mengenal seseorang dan menaruh kepercayaan kepadanya.

Kalau kita menaruh kepercayaan kita kepada Yesus, sudah pasti tidak ada yang perlu kita ragukan lagi. Ayub adalah seorang yang saleh, seorang yang sangat mengasihi Tuhan, hidup takut akan Tuhan seumur hidupnya, dan Ayub sangat diberkati Tuhan. Tuhan begitu membanggakan Ayub di hadapan iblis. Tuhan ijinkan iblis mencobai Ayub, karena Ia percaya Ayub sanggup melewati semuanya itu dan tetap setia kepada Tuhan.

Tuhan percaya Ayub sanggup karena Ia mengenal Ayub. Berita dukacita datang silih berganti kepada Ayub. Firman Tuhan katakan belum selesai berita yang satu, telah datang berita yang lain (Ayub 1:14-19). Bertubi-tubi musibah yang ia alami. Ternaknya habis dan anak-anaknya mati. Harta Ayub habis dalam sekejap mata. Walaupun begitu, Ayub tetap menyembah Tuhan (Ayub1 1:20-21). Ia tidak bersungut-sungut. Dalam dua kesempatan, iblis meminta ijin dari Tuhan untuk mencobai Ayub. Tuhan tidak ragu, tidak pikir-pikir dulu, sanggup ga yah Ayub dicobai seperti itu. Tuhan kenal Ayub dan Ia tahu Ayub sanggup. Kita pun demikian, ketika kita menghadapi pencobaan, Tuhan ijinkan karena Ia kenal kita dan Ia tahu kita sanggup menghadapinya.

Dalam Keluaran 2:1-10, dikisahkan latar belakang Musa. Firaun pada waktu itu membatasi perkembangan bangsa Israel dengan membunuh semua bayi laki-laki. Tapi Tuhan sudah memilih Musa sejak dari kandungan dan Ia memiliki rencana yang besar atas hidup Musa. Musa tidak mati dibunuh ketika ia masih kecil, justru Musa dibesarkan di tengah-tengah istana Firaun. Menerima pendidikan ala Mesir tidak membuat Musa kehilangan cinta akan bangsanya. Musa tetap memiliki hati yang besar untuk bangsanya dan Tuhan memakai Musa untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir menuju tanah Perjanjian.

Tuhan menaruh kepercayaan yang begitu besar kepada Musa. Pada awalnya Musa ragu-ragu. Ia berargumen dengan Tuhan bahwa ia tidak pandai bicara, bagaimana mungkin ia sanggup memimpin bangsa Israel yang begitu besar. Tapi rencana Tuhan tidak gagal hanya karena Musa memiliki keterbatasan itu. Tuhan tetap pakai Musa. Bangsa Israel yang begitu besar, mengikuti Musa keluar dari Mesir. Musa tidak pakai pengeras suara, tidak pakai sound system boom box, tapi bangsa Israel mendengarkan perkataan Musa, karena Tuhan menyertai Musa.

hundred-percentKetika kita menolak kepercayaan yang Tuhan berikan dalam hidup kita, kita sudah bersikap sombong kepada Tuhan. Ketika Tuhan menaruh kepercayaan kepada seseorang, Tuhan pasti menyertai dan memberikan kemampuan kepada orang itu (Keluaran 4:10-12). Seperti Musa, Tuhan menyertai dia kemanapun Musa pergi. Tidak ada rencana Tuhan yang gagal.

Tuhan juga memberi kepercayaan kepada nabi Yeremia untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa (Yeremia 1:4-6). Tuhan juga sudah mengenal Yeremia sejak dari kandungan. Yeremia juga berargumen seperti Musa. Ia berkata bahwa ia tidak pandai bicara (Yeremia 1:9), tetapi Tuhan menaruh perkataan-perkataan-Nya dalam mulut Yeremia. Rencana Tuhan juga tidak gagal atas hidup Yeremia.

Yunus dipanggil Tuhan untuk menyadarkan Niniwe. Yunus membatasi kasih karunia Tuhan kepada bangsa-bangsa lain. Buat apa kasih Tuhan dicurahkan untuk bangsa Niniwe, begitu pikirnya. Oleh sebab itu, ia melarikan diri ke Tarsis. Biarpun Yunus kabur, rencana Tuhan juga tidak gagal atas hidupnya. Tuhan menarik Yunus kembali dan Yunus berkhotbah di Niniwe. Hanya satu kali ia berkhotbah dan seluruh bangsa itu bertobat. Luar biasa penyertaan Tuhan atas Yunus !

Petrus sebagai murid Yesus, sangat berkobar-kobar mengasihi Tuhan. Karakternya meledak-ledak dan cepat bereaksi. Ketika Yesus ditangkap, Petrus memotong telinga salah satu prajurit yang mau menangkap Yesus. Sepertinya pada waktu itu, Petrus sudah siap mati untuk Yesus. Tapi apa yang terjadi? Petrus menyangkal Yesus tiga kali karena takut menghadapi aniaya di depan mata.

Ketika Yesus mau memulihkan Petrus, ia tiga kali bertanya kepada Petrus, apakah ia mengasihi Yesus. Petrus hancur hati karena Yesus bertanya sampai tiga kali kepadanya. Dan ia menjawab dengan jujur bahwa ia mengasihi Yesus (Yohanes 21:15-19). Mungkin kita juga pernah berkobar-kobar melayani Tuhan. Dulu, apapun rintangannya kita tetap maju melayani. Dulu, mau hujan kek, mo terik kek, tetap datang ke gereja, beribadah kepada Tuhan. Tapi lama kelamaan, kita jauh dari Tuhan, kita gagal, kita jatuh bangun dalam pengiringan kita kepada Tuhan. Tidak apa. Ingatlah, rencana Tuhan tidak pernah gagal bagi kita.

Dalam Matius 25:14-30 dikisahkan perumpamaan tentang talenta. Tuan itu memberi hamba-hambanya 5, 2, dan 1 talenta. Ketika Tuan itu memberi, tentu ia tahu karakter hambayang jahat itu. Tapi Tuan itu tetap memberinya 1 talenta. Tuhan juga memberi talenta kepada kita, minimal 1. Seharusnyalah kita bangga kalau kita dipercaya Tuhan. Seharusnyalah kita menghargai apapun yang Tuhan beri dalam hidup kita. TUHAN MENGHARGAI SETIAP JERIH LELAH DAN WAKTU YANG KITA BERIKAN KEPADA-NYA. Karena itu, jangan ragu lagi. Kalau Tuhan berikan kepercayaan kepada kita, artinya Tuhan kenal kita dan Ia ingin memakai kita. Haleluya ! (Sdri. Bethany)

Yesus Berjalan di Atas Air

July 12, 2013 Leave a comment

Peristiwa Yesus berjalan di atas air terjadi setelah Ia memberi makan lima ribu orang (Markus 6:45-51). Dengan 5 roti dan 2 ikan, Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki (tidak terhitung wanita dan anak-anak) bahkan ada sisanya 12 bakul. Ini salah satu bukti bahwa Tuhan seringkali memberi apa yang tidak pernah kita pikirkan.

Setelah peristiwa itu, Yesus menyuruh orang banyak itu pulang dan murid-murid disuruh pergi ke Betsaida. Yesus sendiri naik ke bukit dan berdoa. Di sini, ada satu ketaatan yang dikerjakan oleh murid-murid. Tidak dicatat ada percekcokan di antara mereka ketika Yesus menyuruh mereka pergi ke Betsaida. Mereka semua taat dan pergi ke Betsaida, naik perahu. Mereka naik ke perahu itu bukan atas kehendak mereka, tapi atas kehendak Tuhan.

Di tengah perjalanan mereka, ada angin sakal (merupakan gambaran cobaan yang Tuhan ijinkan dalam hidup kita). Menghadapi cobaan, mungkin seringkali kita berpikir, kita sudah melakukan apa yang Tuhan mau, kita sudah mengembalikan milik Tuhan, kita sudah melayani Tuhan, memberi persembahan, tapi kok Tuhan masih ijinkan pencobaan dalam hidup kita? Satu hal yang perlu kita ingat, bukan berarti kalau kita ikut kehendak Tuhan, pencobaan tidak akan datang dalam hidup kita. Ada banyak tokoh-tokoh dalam Alkitab yang hidup saleh (seperti Ayub, Yusuf, dsb) di hadapan Tuhan, tapi tetap ada cobaan silih berganti dalam hidup mereka.

Roma 12:2 berbunyi “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kita harus bisa membedakan mana kehendak Allah dan mana kehendak manusia. Tuhan ijinkan proses pendewasaan dalam hidup kita lewat cobaan yang terjadi. Kita harus tetap maju apapun cobaan yang datang dalam hidup kita. Jangan kita bandingkan hidup kita dengan orang-orang lain yang tidak mengenal Tuhan tapi hidup mereka terlihat seakan-akan diberkati Tuhan. Iman kita bisa bimbang kalau mata kita tertuju pada hal-hal seperti ini.

Yesus pergi ke bukit utk berdoa (Markus 6:46). Yesus naik ke bukit bukan untuk berleha-leha ato bersantai-santai sejenak di bukit, menikmati sunset mungkin setelah lelah menyampaikan Firman Tuhan. Tidak ! Yesus naik ke bukit untuk BERDOA. Ini salah satu bukti kepedulian Allah kepada kita. Ia tidak akan pernah membiarkan kita sendirian. Di tengah-tengah bahtera rumah tangga kita, di tengah-tengah pekerjaan kita, kesibukan kita, Yesus SELALU BERDOA untuk kita.

Yesus tidak berada secara fisik bersama murid-murid ketika Ia berdoa. Tapi Ia tahu persoalan yang dihadapi murid-murid. Ia pun tahu persoalan yang kita hadapi dan percayalah, Ia sedang bekerja di dalamnya. Walaupun Yesus tidak berada secara fisik bersama kita, Ia selalu menyertai kita, berdoa untuk kita, bahkan berperang bagi kita !

Bagi kita sekalianlah, Yesus berdoa (Ibrani 7:25). Ia menjadi pengantara kita dengan Tuhan. Ia menjadi "pengacara" bagi kita. Ia yg membenarkan hidup kita di hadapan Bapa. Bahkan, sampai sekarang pun juga Ia terus berdoa bagi kita.

Markus 6:48 mencatat, “Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, …”. Kata melihat di sini dalam bahasa Grika disebut Eido, artinya melihat dengan penuh pengertian. Kita tentu tahu kisah orang Samaria yang baik hati. Ketika ada seorang Yahudi yang dirampok dan dipukuli setengah mati sampai terkapar di pinggir jalan, tidak ada orang yang menolong dia. Seorang Lewi dan seorang imam yang melewati jalan itu hanya melihat dari jauh. Tidak ada belas kasihan yang muncul dalam hati mereka untuk menolong orang Yahudi itu. Tapi orang Samaria itu, melihat dengan penuh pengertian, sehingga ia segera menolong orang Yahudi itu. Bukan hanya ia mengantar orang ini ke penginapan, ia bahkan menyuruh orang mengobatinya, dan ia akan menambahkan pembayaran biaya pengobatannya jika masih kurang. Tuhan pun melihat segala masalah kita dengan penuh pengertian, penuh belas kasihan.

Dalam hidup rumah tangga, perlu pengertian antara suami istri, antara orang tua dan anak. Harus ada kepedulian dan tenggang rasa dalam keluarga, ini perlu. Sebagai anak-anak Tuhan, kita harus bisa melihat orang lain dgn pengertian. Kita bisa menolong orang lain, bukan hanya lewat harta kekayaan tapi terlebih lewat doa dan perhatian kita.

Yesus terus berdoa sampai tengah malam. Jam 3 pagi Ia mengambil keputusan setelah Ia melihat (dengan pengertian) betapa payahnya murid-murid mengayuh perhu itu. Ia datang kepada mereka berjalan di atas air. Kenapa Yesus harus berjalan di atas air? Kalau dipikir-pikir, Ia bisa aja langsung teleport masuk ke perahu.

Yesus berjalan di atas air karena Ia ingin menyatakan diri-Nya sbg Anak Allah, Ia ingin memperlihatkan kuasa-Nya. Ia telah membuat mukjizat pada siang hari, memberi makan lima ribu orang dengan 5 roti dan 2 ikan. Yesus ingin menunjukkan diri-Nya kepada murid-murid, bahwa Ia adalah guru yang bukan hanya sekedar guru, tabib yang bukan hanya sekedar tabib, tapi benar-benar Ia adalah Anak Allah yang berkuasa.

Yesus ingin memberikan contoh kepada murid-murid. Walaupun angin sakal begitu kencang, Ia ingin menunjukkan bahwa Ia akan tetap berjalan maju ke arah kita (baca, murid-murid). Apa yang kita alami, Ia sudah tahu terlebih dahulu. Kita harus jadi anak-anak Tuhan yang tidak gampang menyerah. Angin sakal boleh datang, cobaan boleh datang, dukacita boleh silih berganti menyambangi hidup kita, tapi kita harus yakin, Allah kita yang luar biasa, sedang bekerja lewat semua itu, dan kita harus tetap bergerak maju !

Dalam ayat 48 juga dituliskan, “Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.“ Yesus berjalan di atas air, menuju murid-murid, tapi lho kok Ia hendak melewati mereka? Bukankah tujuan Yesus datang adalah untuk menolong murid-murid? Kenapa Ia malah mau melewati mereka? Karena Yesus ingin melihat respon dari murid-murid. Ia tentu mengharapkan respon yang positif dari murid-murid, tapi mereka malah mengira Ia adalah hantu.

Manusia mudah sekali berpikir negatif dan memberi respon yang negatif ketika menghadapi persoalan. Bisakah kita tetap cinta Tuhan, tetap melayani Tuhan, latihan ini itu yang tentunya menyita waktu kita, ketika kita menghadapi anggota keluarga kita sakit atau dukacita ketika ada keluarga kita yang dipanggil Tuhan? Bisakah kita tetap menyembah Tuhan dan tidak bersungut-sungut? Tentu bukan hal yang mudah.

Tuhan sudah atur segala sesuatu yang terjadi, pasti terjadi untuk kebaikan kita. Ketika cobaan datang sebagai teguran, biarlah kita cepat sadar. Ketika cobaan datang untuk mendewasakan kita, kiranya kita bisa terus mengucap syukur. Ketika murid-murid takut, Yesus berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Ia naik ke perahu dan angin pun redalah. Yesus juga mengatakan hal yang sama kepada kita, jangan takut ! Ketika Yesus naik ke perahu hidup kita, angin pun redalah. Walaupun angin itu datang lagi, Yesus akan tetap ada di sisi kita, untuk menolong kita (Mazmur 23:4).

SEKALIPUN AKU DALAM LEMBAH KELAM

KU TAK TAKUT SBAB KAU BESERTAKU

PENOLONGKU HANYALAH DIRIMU

PENGHIBURKU HANYA ENGKAU, BAPAKU YANG SETIA

(K Paul)

Bedah Tokoh: Daniel (2)

July 3, 2013 Leave a comment

Daniel-lions Kita telah mempelajari latar belakang kehidupan Daniel di post ini dan bagaimana Tuhan menyertai dia karena ia taat kepada Tuhan. Daniel menjadi sepuluh kali lebih pintar dari orang-orang lain yang belajar bersama-sama dengan dia. Daniel kemudian melayani di istana raja Nebukadnezar.

Setelah itu, raja Nebukadnezar bermimpi, ia menjadi gelisah dan tidak dapat tidur. Lalu ia memanggil orang-orang pintar untuk menceritakan kembali mimpi itu serta mengartikannya. Orang-orang pintar itu tidak dapat mengartikan mimpi itu sehingga raja menjadi marah dan menyuruh orang membunuh semua orang pintar di negeri.

Ketika raja memanggil orang-orang pintar, harusnya Daniel ada di antara orang-orang tersebut, tetapi ia tidak diundang. Daniel yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba terancam dibunuh. Mendengar itu, Daniel langsung menghadap raja (Daniel 2:16). Pada waktu itu, Daniel tentu sadar bahwa ia dalam keadaan bahaya. Kita pun harus selalu sadar (waspada) secara rohani, karena kehidupan rohani penuh ancaman (I Petrus 5:8). Orang yang sadar dan berjaga-jaga, tahu apa yang sedang dihadapinya sehingga ia bisa mengambil langkah-langkah yang diperlukan.

Daniel menghadap raja agar ia diberikan waktu untuk bisa mengartikan mimpi itu. Setelah itu, apa yang Daniel lakukan? Ia memanggil teman-temannya, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego untuk berdoa bersama (Daniel 2:17-18). Sekalipun Daniel orang pandai, ia tidak mengandalkan kepandaiannya. Ia meminta bantuan doa kepada teman-temannya. Ketika dua orang atau lebih sepakat di dalam doa, Tuhan hadir di situ dan mengabulkan permintaan mereka (Matius 18:19). Tuhan ajarkan kesehatian dan kesepakatan dalam pergumulan.

Hasil doa Daniel dkk, rahasia itu Tuhan singkapkan kepada mereka. Setelah berdoa, Tuhan langsung berikan penglihatan kepada Daniel. Kuasa doa sungguh luar biasa. Jawaban doa tidak perlu kita ragukan. Sehati dalam doa itu susah susah gampang. bisa saja kita bersama secara fisik, tapi belum tentu kita sehati. Dalam Daniel 2:19b, Daniel langsung memuji Tuhan dan mengucap syukur untuk penglihatan yang Tuhan berikan. Dalam Daniel 2:23, ia menyebut kata kami (apa yang kami mohon kepada-Mu), menandakan ia mengakui Tuhan menjawab doa mereka (bukan doanya sendiri saja).

Daniel tidak melupakan teman-temannya. Ketika ia telah berhasil mengartikan mimpi itu, raja memberikan penghargaan kepadanya. Ia meminta raja memberikan pemerintahan kepada teman-temannya (Daniel 2:48-49). Zaman sekarang, orang yang sudah dipakai oleh Tuhan, bisa menganggap teman-temannya tidak selevel lagi. Tidak demikian dengan Daniel. Ia mengingat teman-temannya.

Dalam Daniel 4:8-9, raja kembali bermimpi. Kali ini, raja memanggil Daniel, yang menurut raja dikatakan “penuh dengan roh para dewa yang kudus”. Itu yang dipercayai oleh raja, tapi Daniel sebeneranya penuh dengan Roh Kudus. Sebelum Yesus lahir, Allah tritunggal sudah ada, Roh Kudus sudah ada, hanya belum bermanifestasi dalam diri manusia. Daniel bisa mengartikan mimpi karena ada Roh Kudus di dalam dirinya. Yusuf pun penuh dengan Roh Kudus. Tuhan bergaul karib dengan orang-orang yang dekat dengan dia dan segala rahasia-Nya diberitahukan kepada mereka (Mazmur 25:14). Kita harus bergaul karib dengan Tuhan.

Dalam Daniel 6, Daniel ada dalam pemerintahan raja Darius. Sebelum raja Darius, Daniel sudah melewati pemerintahan tiga raja. Walaupun sudah lewat tiga pemerintahan, Daniel tetap ada dalam pemerintahan. Ia termasuk orang yang penting. Raja-raja Babel selalu mengakui bahwa Daniel memiliki roh yang luar biasa. Roh Kudus yang membuat Daniel istimewa di mata manusia dan di mata Allah.

Banyak orang menjadi cemburu dengan kesuksesan Daniel. Mereka mencari-cari celah untuk menjatuhkan Daniel, tapi tidak mendapatkan satu pun kelemahan Daniel. Hanya satu hal yang mereka anggap “kelemahan” Daniel, yaitu ketaatannya beribadah kepada Tuhan. Mereka meminta raja mengeluarkan titah agar tidak boleh ada orang yang menyembah allah lain selain raja.

Daniel yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba dilemparkan ke gua singa. Singa-singa itu bukan singa biasa. Mereka dilatih dalam kelaparan supaya setiap orang yang dilempar ke dalamnya langsung diterkam dan menemui ajalnya. Tapi tidak demikian dengan Daniel. Malaikat Tuhan mengatupkan mulut singa-singa itu sehingga ia selamat. Raja Darius mengakui bahwa Allahnya Daniel adalah Allah yang luar biasa (Daniel 6:17).

Ketekunan kita dilihat oleh orang lain, dinilai oleh pribadi lain. Ketekunan kita juga ikut mempengaruhi jalan hidup kita ke depannya. Pada zaman Darius, Daniel sudah menempati posisi yang tinggi, sejajar dengan Perdana Menteri di masa sekarang. Tentu posisi seperti itu menuntut sangat banyak waktu Daniel. Tapi ia tetap menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan. Karena itu, Tuhan menjaga Daniel dari terkaman singa-singa. Ibrani 11:33 katakan iman Daniel menjaga dia dari singa-singa.

Daniel punya tujuan hidup. Dari muda sampai tua (kurang lebih 89 tahun), ia tetap punya ketetapan hati. Ia harus hidup sesuai dengan yang Tuhan mau. Kehidupan doanya berakar. Banyak orang akan berusaha mencari-cari kesalahan kita, mau menjatuhkan kita, mau menggeser sifat-sifat ilahi dalam diri kita. Tapi biarlah kita seperti Daniel, menjaga Roh Allah di dalam dirinya. Allah yang Daniel sembah sama dengan Allah yang kita sembah. Kuasa-Nya sama, dulu, sekarang, dan sampai selamanya. Berubahlah sekarang, bukan nanti ! Beranilah mengatakan kebenaran dan jaga iman kita. Haleluya !

(Kak Yalin)

Bedah Tokoh: Daniel (1)

July 2, 2013 1 comment

danielPembahasan tentang Daniel harus dimulai dari latar belakang pembuangan bangsa Israel ke Babel. Raja Israel yang pertama adalah Saul, yang kedua adalah Daud, yang ketiga adalah Salomo. Masing-masing raja ini memerintah selama 40 tahun. Setelah Salomo, kerajaan Israel terpecah menjadi dua: kerajaan Israel (10 suku) yang lebih dikenal dengan kerajaan Utara (ibukotanya Palestina) dan kerajaan Yehuda (2 suku, yaitu Yehuda dan Benyamin) yang lebih dikenal dengan kerajaan Selatan (ibukotanya Yerusalem).

Setelah pembuangan di Babel, kerajaan Utara terpencar ke berbagai tempat, sedangkan kerajan Selatan kembali lagi di Yerusalem dan menyebut bangsa mereka sebagai bangsa Israel (Ezra 8:2). Dalam II Raja-Raja 18:11, sepuluh suku yang tergabung dalam kerajaan utara dibuang ke Asyur (saat ini lebih dikenal dengan Palestina, Irak). Kerajaan Yehuda dibuang ke Babel pada tahun 686 SM. Mengapa Tuhan ijinkan pembuangan bangsa pilihan-Nya ke Babel? Karena mereka tidak memelihara hari Sabat, sehingga Tuhan akhirnya mengirim Nebukadnezar untuk menawan mereka ke Babel.

Pada masa pembuangan itu, ada seorang yang bernama Daniel. Ia masih muda. Umurnya tidak ditulis secara jelas dalam Alkitab, tapi para ahli menaksir umurnya pada waktu itu sekitar 16-19 tahun. Pada zaman Daniel, juga hidup nabi Yehezkiel, namun Yehezkiel usianya lebih tua daripada Daniel. Nama Daniel pun disebut dalam kitab Yehezkiel (Yehezkiel 14:14, 20; 28:3). Dalam kitab Yehezkiel, Daniel disejajarkan dengan Ayub dan Nuh, orang-orang yang hidup jauh sebelum Daniel. Bagi orang Israel, Ayub dan Nuh adalah orang-orang yang istimewa karena sikap hidup mereka yang saleh. Daniel pun juga memiliki sikap hidup yang demikian, sehingga Yehezkiel mensejajarkan Daniel dengan Nuh dan Ayub.

Bangsa Babel adalah bangsa yang kafir, tidak mau taat kepada Tuhan. Dalam Kejadian 11, dikisahkan mereka hendak membangun menara yang tinggi di Babel, sehingga Tuhan mengacaukan bahasa mereka. Tuhan mengijinkan bangsa ini menawan kerajaan Yehuda dan merampas perkakas-perkakas rumah Allah (Daniel 1:2).

Pembuangan ke Babel ini sebenarnya telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya (Yesaya 39:6) dan digenapi pada masa Daniel. Tetapi Tuhan berjanji akan mengembalikan apa yang ditawan Babel ke Yerusalem, dan ini digenapi pada zaman Nehemia.

Kita tahu kisah raja Hizkia yang diperpanjang umurnya oleh Tuhan ketika ia menderita sakit dan divonis akan mati. Kesembuhan Hizkia yang merupakan mujizat Tuhan itu, didengar oleh banyak bangsa. Lalu utusan Babel datang untuk memberi selamat kepadanya. Pada waktu itu, Hizkia memperlihatkan (memamerkan) seluruh kekayaan di istananya. Karena itu, firman Tuhan datang kepadanya lewat nabi Yesaya, “Sesungguhnya, suatu masa akan datang, bahwa segala yang ada dalam istanamu dan yang disimpan oleh nenek moyangmu sampai  hari ini akan diangkut ke Babel. Tidak ada barang yang akan ditinggalkan, demikianlah firman TUHAN. Dan dari keturunanmu yang akan kauperoleh, akan diambil orang untuk menjadi sida-sida di istana raja Babel.“

Pada waktu nubuat itu disampaikan, Hizkia belum mempunyai anak laki-laki. Tapi tiga tahun kemudian, lahirlah Manasye, yang merupakan nenek moyang dari Daniel. Jadi, Daniel adalah keturunan raja. Sida-sida artinya pejabat dalam istana.

Ketika bangsa Yehuda tertawan, Nebukadnezar menyuruh orang-orang muda dari Yerusalem untuk dibawa ke Babel. Ada syaratnya, mereka haruslah orang-orang muda, keturunan raja atau bangsawan, tidak ada cela, perawakan baik (Daniel 1:3-4). Nebukadnezar menginginkan orang-orang yang istimewa, yang extra ordinary, dengan tujuan supaya mereka bekerja pada raja. Betul-betul terjadi yang dinubuatkan oleh Firman Tuhan, Daniel menjadi sida-sida di istana Babel.

daniel2 Raja memberikan santapan dan minuman khusus untuk orang-orang ini (Daniel 1:5-8). Dalam bahasa inggris, santapan ini ditulis dengan kata “delicacies”, artinya santapan yang istimewa, yang tentunya enak-enak. Tetapi Daniel menolak santapan ini, karena itu adalah makanan yang menajiskan dirinya. Allah BERKEMURAHAN kepada Daniel karena Daniel berani berkorban (Daniel 1:9). Seringkali Tuhan lihat seberapa berani kita berkorban untuk menjalankan Firman Tuhan. Daniel pilih sayur, dalam bahasa inggris diartikan sebagai buah-buahan, dalam bahasa aslinya diartikan sebagai tanaman yang berasal dari tanah (biji-bijian).

Tuhan lihat pengorbanan Daniel dan Ia memberkati Daniel dengan hikmat yang lebih daripada orang-orang lain. Kepala pegawai istana yang mengatur santapan mereka, pastilah orang yang tegas. Tetapi ketika Daniel meminta supaya ia makan sayur saja, Tuhan melembutkan hati kepala pegawai itu dan ia menyetujuinya. Mungkin banyak hal yang sudah kita doakan. Bahkan mungkin banyak doa-doa yang sudah kita lupakan. Tetapi Tuhan tahu menjawab doa kita TEPAT pada waktunya. Dan ketika Tuhan menjawab, bahkan mungkin lewat orang-orang yang tidak kita pikirkan, kita pasti akan terpukau oleh apa yang Tuhan buat bagi kita.

Setelah 10 hari Daniel makan sayur-sayuran, ia terbukti lebih sehat dan lebih berhikmat daripada orang-orang lain. Biarlah apa yang kita katakan dan lakukan, semuanya memuliakan Tuhan (I Korintus 10:31).

Daniel dibuang ke Babel bersama-sama dengan teman-temannya, Hanaya, Misael, dan Azarya. Arti nama Daniel: Allah adalah hakimku. Arti nama Hanaya: Allah kemurahan. Arti nama Misael: Siapa yang sama seperti Allah. Arti nama Azarya: Tuhan menolong. Nama-nama mereka semuanya berkaitan dengan Allah.

Ketika mereka dibawa ke Babel, nama mereka dirubah. Daniel menjadi Beltsazar, yang artinya pemelihara kekayaan dewa Belt (dewa utama di Babel). Hanaya diganti menjadi Sadrakh, yang artinya dewa matahari. Misael diganti menjadi Mesakh, yang artinya dewa bumi di Babel. Azarya diganti menjadi Abednego, yang juga merupakan nama dewa di Babel. Nama mereka diganti supaya sifat mereka terpengaruh, menjadi seperti bangsa di Babel. Namun demikian, mereka tidak terpengaruh. Kita tentu sangat kenal dengan kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang dilempar ke dapur perapian. Mereka tetap tidak mau menyembah patung buatan Nebukadnezar walaupun harus dibuang ke dapur api.

Apakah sifat-sifat Allah tetap ada dalam kita? Dunia pasti berusah merubah kita. Sebagai anak Tuhan yang sejati, biarlah kita seperti Daniel, yang memiliki ketetapan hati. Daniel bisa sepuluh kali lebih cerdas daripada orang-orang lain (Daniel 1:18-21). Ini adalah hasil dari ketetapan hati dan pengorbanan Daniel. Kasih karunia Allah yang membuat mereka lebih cerdas daripada orang berilmu dan ahli jampi (yang mendapat kuasa dari kegelapan).

Ayub dan Nuh mendapat ujian pada usia dewasa, namun Daniel sudah diuji sejak masa mudanya. Walaupun begitu, Daniel tetap teguh dan Tuhan membela dia. Kiranya kita pun seperti Daniel, tetap teguh menghadapi ujian dan pergumulan hidup. Yakinlah Allah pembela kita tidak akan tinggal diam ! Tuhan Yesus memberkati !

(Kak Yalin)