Archive

Posts Tagged ‘Efesus’

Kesanggupan Mengasihi Tanpa Syarat (2)

July 28, 2010 Leave a comment

lindy Sifat Allah adalah kasih. Tuhan tetap mengasihi manusia walaupun terkadang manusia lupa, bahkan tidak, mengasihi Tuhan. Dalam hidup ini, begitu banyak hal, baik besar maupun kecil, yang mengingatkan kita akan kasih Tuhan. Sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengasihi Tuhan atau tidak bersyukur kepada-Nya. Semua yang  Tuhan beri dan lakukan buat kita, selalu tanpa syarat. Semua yang paling baik Tuhan beri dalam hidup kita. Udara, kesehatan, berkat jasmani dan rohani, bahkan Yesus, diberikan-Nya untuk kita.

Janji penyelamatan sudah ada sejak sesaat setelah manusia jatuh dalam dosa (Kejadian 3: 15-21). Ayat 15 dalam pasal ini berbunyi, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Jauh sebelum peradaban manusia ada, sejak dari Taman Eden, sesaat setelah manusia jatuh dalam dosa, Allah sudah berjanji tentang pengorbanan Yesus. Yesus yang adalah keturunan dari Hawa, namun dikandung bukan dari benih seorang lelaki, melainkan oleh Roh Kudus, akan meremukkan keturunan iblis.

myspace_christmas_clipart02 Yesus mengasihi kita secara TOTAL. Ia tidak menyayangkan keberadaan-Nya yang mulia sebagal Allah, melainkan Ia rela menderita dan berkorban demi keselamatan Saudara dan saya (I Timotius 6:16). Kejatuhan manusia dalam dosa, bukanlah kegagalan Allah, bukan pula ketidaksempurnaan Allah, malah sebaliknya, hal itu menunjukkan satu hal lagi yang Allah berikan untuk kita – KEHENDAK BEBAS. Allah ingin manusia dengan kehendaknya sendiri, datang untuk menyembah dan memuliakan Tuhan.

Yesus pun memiliki kehendak bebas ketika Ia berada di dunia. Tapi Ia tidak menggunakan kehendak bebas-Nya itu untuk kesenangan-Nya sendiri, melainkan Ia menjalankan kehendak Bapa di dunia ini (Filipi 2:5-7). Lukas 22:42 menggambarkan pergumulan Yesus di Taman Getsemani menghadapi bayangan penderitaan salib. Yesus membuat sebuah pilihan malam itu, pilihan untuk meminum cawan murka Allah. Hal ini tentu bukan pilihan yang mudah, tapi Ia membuat pilihan itu UNTUK KITA ! Kalau Yesus mau, Ia sanggup memanggil 12 pasukan, kurang lebih 72 ribu, malaikat, untuk membela-Nya (Matius 26:51-54). Tapi Yesus ingin menggenapi kasih Allah kepada manusia.

love-you-shirt Yesus membuktikan kasih-Nya yang luar biasa dengan cara melayani manusia. Ketika Ia selesai memberi makan lima ribu orang, orang-orang ingin mengangkat Dia sebagai Raja (Yohanes 14:31), tapi Ia malah menyelinap pergi. Yesus datang untuk menebus dosa manusia, untuk melayani kita.

Bangsa Israel generasi pertama adalah orang-orang yang tidak meresponi Firman Tuhan. Walaupun Tuhan telah menunjukkan begitu banyak mujizat dan penyertaan-Nya, mereka terus-menerus bersungut-sungut dan mencobai Tuhan. Ketika mereka membutuhkan air di padang gurun, Tuhan memancarkan air dari gunung batu. Air yang dikeluarkan untuk memberi minum bangsa yang besar itu tentu tidak mungkin hanya beberapa tetes, tapi pasti seperti sungai, namun dengan bebalnya orang Israel tidak menghargai pemberian Tuhan itu.

Kita sedang hidup dalam zaman kasih karunia (I Tesalonika 5:9). Akan ada saatnya kasih karunia itu ditutup. Terus pelihara kasih Allah dalam hidup kita. Jangan sia-siakan waktu yang ada ini. Yesus sanggup mengubahkan Zakheus. Ia pun sanggup mengampuni perempuan berzinah yang dihadapkan kepada-Nya. Betapa besarnya kasih Allah bagi kita. Di Surga, Ia terus berdoa bagi orang-orang kudus (Roma 8:27). Kita adalah bagian dari Dia, Ia merasakan apa yang kita rasakan.

Kasih adalah perintah (Matius 22:37-39). Keluarga, teman-teman, pasangan, orang-orang terdekat, bisa memberi kita berbagai macam benda dan kasih sayang, tapi hanya Yesus yang memberi kita kasih AGAPE, yang tanpa syarat, lewat pengorbanan salib. Ia tidak melihat keberadaan kita ketika menghadapi penderitaan salib. Ia berkorban untuk kita walaupun pada saat itu kita masih hidup dalam dosa.

4CDC7DDB873E435191BB422C033812BB Ketika kita mengasihi Tuhan (vertikal), kita pun dituntut untuk mengasihi sesama kita (horizontal). Tuhan tidak menyebut kasihilah orang yang mengasihimu, atau kasihilah orang yang memberimu makan, atau kasihilah orang yang mengulurkan tangannya untukmu. Ia hanya berkata kasihilah sesamamu manusia, artinya tidak memandang suku bangsa, ras, agama, warna kulit, kekayaan, usia, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, SEMUA SESAMA MANUSIA harus dikasihi. Hiduplah dalam kasih (Yohanes 14:21, Efesus 5:2). Kasih sebagai patokan; kasih selalu ada bersama kita; kita berjalan dalam kasih.

Kasihilah sesama kita manusia dengan sepenuh hati, seperti saudara sendiri (Roma 12:10). Kita pasti bisa belajar mengasihi orang lain. Memang bukan sesuatu yang mudah, tapi kita pasti mampu. Kita dimampukan oleh Roh Kudus. Roh Kudus melembutkan hati kita, untuk bisa menerima orang lain apa adanya, sebagaimana Tuhan telah menerima kita apa adanya.

Mengasihi adalah identitas kita (I Yohanes 2:10). Kalau kita katakan kasih adalah identitas, artinya kalau kita tidak mengasihi, kita kehilangan identitas kita. Yuk.. kita belajar mengasihi Tuhan dan sesama dengan lebih sungguh lagi. Ingat, kasih Tuhan memberi teladan bagi kita untuk bisa mengasihi tanpa syarat ! Tuhan memberkati.

(Kak Yudi)

Berkata, Bertindak, dan Menularkan yang Positif

February 18, 2010 1 comment

Manusia sebagai makhluk sosial harus berhubungan dengan orang lain. Manusia dipengaruhi oleh pola ucapan dan tingkah laku manusia lain. Kualitas pola ucapan dan tindakan kita bakalan jelek kalo kita menyinggung orang lain, sembrono, dan terus-menerus mengeluh. Hal ini bisa menyebabkan hilangnya ikatan damai sejahtera (Efesus 4:3).

Jadi, salah satu hal yang bisa kita kembangkan adalah mengarahkan ucapan dan tindakan kita supaya memberi kekuatan buat orang lain. Contohnya Yosua dan Kaleb yang bersikap positif di antara 12 pengintai yang diutus untuk mengintai kota Yerikho (Bilangan 13). Dua belas orang yang diutus itu adalah pemimpin-pemimpin dari dua belas suku Israel. Mereka melihat negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, negeri yang sangat makmur. Namun di hadapan Musa, mereka malah melaporkan bahwa walaupun negeri itu subur dan makmur, tapi bangsa yang diam di situ sangat kuat dan bakalan sulit banget buat ngerebut negeri itu. Terang aja bangsa Israel yang denger langsung ciut nyalinya.

Untung aja ada Yosua dan Kaleb ga seperti 10 pengintai yang lain. Mereka mencoba menentramkan hati bangsa Israel; Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (Bilangan 13:30)

Perkataan mereka ini menyalurkan kekuatan spiritual buat bangsa Israel. Mereka mengingatkan bangsa itu akan kuasa Allah yang besar. Tapi bangsa Israel udah keburu takut duluan dan memilih untuk mundur. Mereka ga percaya sama kuasa Tuhan dan akibatnya, angkatan pertama bangsa itu ga ada yang masuk ke Tanah Perjanjian, kecuali Yosua dan Kaleb.

Kesetiaan dan kepercayaan Yosua dan Kaleb kepada Tuhan akhirnya menghasilkan generasi yang berkomitmen tinggi, terbukti dari perjanjian Israel di Sikhem, bahwa mereka dan seisi rumah mereka akan beribadah kepada Tuhan. Kata “menentramkan”  dalam Bilangan 13:30 itu, dalam bahasa aslinya berarti excite, stimulate, motivate, dan electrify. Bayangin deh, kalo kata-kata dan tindakan kita menyetrum orang lain, dalam hal positif tentunya, tentu banyak hal luar biasa yang akan terjadi.

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah apakah perkataan kita, tindakan kita udah nguatin keluarga kita, teman kita, orang lain? Firman Tuhan dalam Yesaya 50:4a berkata, “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu.”

Yuk.. kita jadi orang-orang yang menyebarkan semangat lewat perkataan dan tindakan kita ! GBU  ^^

(Yalin)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.